Belanja Kain Langsung dari Pengrajin di Griya Kain Tuan Kentang

Seorang nenek 62 tahun menenun ribuan helai benang untuk dijadikan selembar kain.(TP/Ist)

Tag Pariwisata, PALEMBANG-Mengunjungi pusat kain Tuan Kentang di Palembang bisa menjadi agenda wisata yang menarik saat ke Palembang . Posisinya di Jalan Aiptu A Wahab RT 27, Lorong HMM, Tuan Kentang, Sebrang Ulu 1. Waktu tempuh perjalanan dari pusat kota hanya sekitar 15 menit saja dengan mobil atau sepeda motor.

Di kawasan ini berkumpul pengrajin kain khas Palembang jenis jumputan dan kain tenun, baik tenun tajung maupun tenun songket. Berbagai jenis kain di jual di salah satu tempat yang lebih murah dan banyak pilihan motif dan bahannya yakni di Griya Kain Tuan Kentang.

Di tempat ini sekitar 25 pengrajin di sekitar wilayah Tuan Kentang menitipkan produknya untuk dipasarkan.” Mereka tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan merupakan mitra binaan Bank Indonesia,” Kata Habibi Ketua KUB kepada Tag Pariwisata Senin (17/6).

Di Griya Kain Tuan Kentang kain di display menarik, sangat asri dalam gedung cagar budaya yang sudah di renovasi oleh Bank Indonesia.

Biasanya di sini, pola khas klasik Palembang titik tuju sebagai motif yang banyak dijual, dan pola tengah, selain motif baru kupu-kupu. Selain itu kain dengan warna alam, dengan tampilan warna lebih natural banyak diminati.

Kain warna alam dengan panjang sampai 3-4 m harganya dijual Rp 100 ribu sampai Rp. 400 ribu. Sedang warna sintetis biasanya lebih murah mulai Rp. 100 ribu hingga Rp 250 ribu.

Sedangkan kain tenun tajung harganya lebih mahal sekitar Rp. 200 ribu per meter. Dengan kualitas yang baik kain tajun sudah cukup indah dikenakan dibanding kain tenun songket yang biasanya berharga Rp. 2,5 juta Rp. 5 juta per meter.

Semua harga kain dipengaruhi oleh proses dan ketahanan warnanya. Ada prosesnya rumit ada yang mudah. Warna juga ada yang tahan lama ada yang cepat pudar.

Menurut Habibi semakin lama terasa jumlah pengunjung bertambah karena kini motif kain dan model jumputan sudah mulai digemari anak muda. Dalam satu bulan 1000 lembar kain lebih terjual, baik jenis jumputan maupun tajung.

Selain mereka yang membeli kain untuk berbagai keperluan, wisatawan yang datang karena ingin membeli kain sebagai oleh-oleh juga tidak kalah banyaknya.

Baik dari wilayah Palembang, luar daerah bahkan luar negeri mengunjungi tempat ini. ” Pernah datang ke sini dari Srilanka, Timor Leste, Australia untuk mengetahui lebih dalam mengenai kain khas Palembang sambil berbelanja,” tambah Habibi.

Dulu bahan ini hanya tersedia dalam bentuk kain dan selendang untuk orang tua. Kini bentuknya bervariasi dalam berbagai model pakain jadi sesuai selera terkini. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*