Dari MesaStila Resort untuk Tamu yang Ingin Merasakan Keharmonian Alam

Menjaga keseimbangan diri didorong melalui aktivitas yoga yang rutin, digelar di MesaStila Resort & Spa. (TP/Ist)

Tag Pariwisata, Magelang – Bangunan stasiun tua Mayong dari kayu jati bercat kuning itu, sejenak menghentikan langkah saya  setelah menaiki undakan bebatuan  menuju  kawasan MesaStila Resort & Spa,    yang terletak diantara kebun kopi di desa Losari, Grabag, Kabupaten  Magelang.

Itulah bangunan pertama yang   dinamai lobi Mayong, tempat  yang biasa disinggahi    beberapa   saat    sebelum  menjelajah resort bernuansa jawa klasik dalam kawasan  seluas 22 hektar. Lobi di gerbang utama  dengan segala pernak perniknya itu mengisyaratkan ‘selamat datang’ di tranquil resort kepada siapa saja yang ingin menjadi tamunya.

Setelah melewati lobi Mayong, selepas mata memandang yang ada hamparan hijau rerumputan,    pepohonan    dan pemandangan Gunung Andong, Gunung Merapi, Merbabu dan Telomoyo. Beberapa langkah kemudian rasanya alam pikir kita akan dengan sendirinya tergiring menyimpulkan ‘saya siap’ beristirahat untuk sementara waktu, melepas kepenatan rutinitas, menyatu dengan keseharian alam perkebunan kopi.

Beberapa jam setalah diantar menempati salah satu dari 23 vila di sini, saya mendapat pencerahan dari Arif Hardiawan, Sales and Marketing Manager      MesaStila Resort & Spa melalui   perbincangan yang akrab saat    makan malam menunggu       mulainya Media Gathering Forum Wartawan Pariwisata   (Forwapar) dan    Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata  di  Javared Restaurant MesaStila Resort, Rabu (10/7).

Menurutnya di Magelang  persisnya sekitar Candi Borobudur, resort yang serupa tercatat ada beberapa. Namun yang membedakan salah satunya adalah ambience nya.  ” Coba bangun pagi berjalan mengelilingi kawasan ini,Ibu akan merasakan udara yang sangat segar, kicauan  burung, lingkungan yang hijau asri. Ibu benar-benar merasa di alam lepas yang penuh dengan keseimbangan. Keharmonian ini merupakan hasil dari lingkungan alam yang dijaga dengan baik. Apalagi  resort ini di kepung oleh 11 hektar kebun kopi, ” jelas Arif.

Berjalan pagi di sekitar kebun kopi  dengan udara yang segar, sambil mendengar kicauan burung menjadi aktivitas yang  menyenangkan.  ( TP/Ist)

Keseimbangan ekosistem yang melahirkan  harmoni di lingkungan resort ini dijaga dengan maksud hasilnya akan diterima oleh penghuni kawasan.  Khusus untuk kepentingan ini bahkan konsultan pun didatangkan demi memberi masukan bagaimana mengelola lingkungan agar berkualitas.

Saat berkeliling pagi hari,     saya dapati beberapa sudut    di kawasan ini   memiliki    area yang disiapkan untuk mendukung aktitas tamunya dan       semua berorientasi  pada keseimbangan alam. Area itu  antara lain perkebunan sayur organik, pembuatan jamur, pembuatan pupuk    kompos, dan pengolahan   kopi yang khusus dibuatkan paket tour nya dan dinamai Coffe Plantation Tour.   

Aktivitas Berkesan bagi Para Tamu

Selain dengan alam, menyatu dengan tradisi masyarakat menurut pengamatan saya menjadi nilai lain saat berada di sini. Bagi tamu asing khususnya konsep ini sangat menarik dan memberi kesan sampai kelak kembali ke negaranya.  “ Tamu asing di sini biasanya menginap paling tidak 3 hari 2 malam. Karena kawasan ini luas, mereka biasanya dua hari mengambil aktivitas di sini dan hari terakhir ke lokasi wisata yang agak jauh misalnya ke Borobudur,“ kata Arif lagi.

Biasanya ketika tiba di resort, para tamu akan disodorkan aneka aktivitas yang dapat mereka pilih dengan biaya tertentu. Bagi tamu yang menginap disini semua biaya yang timbul selain biaya penginapan tidak menjadi masalah. Mereka akan membayar dan mengikutinya.

Salah satu yang menarik dan sering menjadi pilihan para tamu adalah Tracking and Cycling with Picnic Class.

Aktivitas ini lah yang disebut       melibatkan       masyarakat karena tamu diajak terjun langsung menyelami keseharian masyarakat sekitar.

Itinerary sehari biasanya  dimulai dengan aktivitas yoga    sebelum    makan pagi. Seteah itu  berlanjut    dengan aktivitas Cofee Plantation Tour sekitar 1,5 jam, lalu  menuju Desa Selogriyo, pemandian Sekar Langit, dan     makan siang di rumah penduduk yang di pilih pihak resort. Di sana biasanya tanu disajikan kudapan tradisional khas seperti singkong rebus, kacang rebus, pisang goreng, tempe mendoan dll. Untuk makan siangnya     tetap dibawa, dan diolah di resort    lalu disajikan di sana. “ Kita belum bisa menyerahkan sepenuhnya sajian makan        siang untuk para tamu,     karena yang mengerti selera adalah kami,”  tambah Arif.

Akibatnya, bukan hanya dampak ekonomi dari  kegiatan     seperti ini,    tapi    masyarakat gembira dan merasa mendapatkan kehorrmatan bisa  berinteraksi dengan orang asing yang bagi    sebagian orang terutama di desa masih dianggap hebat.

Tak jarang mereka menyapa  hangat dengan satu kalimat saja: “Hai Mister, Hai Mister, “. Sambil tertawa Arif menceritakan bahwa kadang anak-anak    kecil di desa melontarkan       kalimat dalam bahaaa inggria yang tidak tepat tanpa makna dan menjadi gurauan para tamu asing itu.

Setelah makan     siang biasanya mereka        kembali ke resort untuk berendam dan    berjemur di kolam renang lalu melakukan aktivitas spa dan beristirahat.

Nah penasaran dengan resort ini? Segera jadwalkan kunjungan kamu untuk ikut merasakan apa yang saya alami. ***

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*