Kisah Komunitas Buku Berkaki Bagikan Kesempatan Baca Buku untuk Kaum Marjinal

Kegiatan Komunitas Buku Berkaki menularkan keinginan membaca bagi kaum marjina. (Foto: Buku Berkaki)

Tag Pariwisata, Jakarta- Bila disebut minat membaca masyarakat Indonesia rendah, menurut sebagian orang tidak tepat juga. Pengalaman membuktikan sebenarnya anak-anak sangat suka melihat-lihat buku     dan   membacanya. Hanya bukunya ada atau tidak, itu masalahnya.  Hal tersebut dijelaskan oleh Meyer Makawekes, Co Founder Komunitas Buku Berkaki kepada Tag Pariwisata Jumat (28/6) saat jumpa pers  kampanye Happy Meal Readers McDonald’s di Jakarta.

Komunitas ini sudah 8 tahun aktif melakukan kegiatan menularkan kegemaran membaca buku   khusus bagi  anak-anak yang kesulitan akses untuk memperoleh buku bacaan. Buku  Berkaki    memfasilitasi koleksi   bukunya untuk ‘berjalan-jalan’ dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada dasarnya gerakan ini memiliki konsep yang hampir mirip dengan perpustakaan keliling. Hanya saja bedanya, jika perpustakaan keliling, buku yang     dipinjamkan bergantung pada ada atau tidaknya yang ingin meminjam. Sedangkan di Buku Berkaki selain buku yang dipinjam oleh anak-anak, panti asuhan pun akan di-drop dengan sejumlah buku lainnya selama seminggu. Kemudian pada minggu berikutnya, satu paket bacaan baru akan di-drop kembali sedangkan koleksi buku lama akan diedarkan ke panti lainnya. Selain itu, Buku Berkaki juga membantu pengadaan buku bagi adik-adik di daerah terpencil yang memiliki kesulitan mengakses buku bacaan.

“Pastinya hanya taman baca yang memerlukan dan bukan merupakan perpanjangan pemerintah atau mendapat dukungan pemerintah, yang kami berikan bantuan,” kata Meyer.

Syarat untuk dapat memperoleh bantuan buku bacaan antara lain taman baca mandiri telah berjalan satu tahun untuk menjamin keberlangsungan kegiatan. “Takutnya nanti kita berikan buku lalu taman baca itu tutup,  maka buku yang kami sumbang akan berhenti sampai di situ, tidak ada  kesempatan dapat dibaca oleh anak-anak di taman baca lain yang masih banyak membutuhkan buku,” tambah Meyer.

Layanan komunitas yang begitu luas di seluruh Indonesia, membuat kebutuhan akan buku begitu besar.  Bahkan sampai pulau Sebatik buku-buku sumbangan didistribusikan. Untunglah ada media sosial yang sangat membantu program ini. Sehingga kampanye menyumbang buku dapat diketahui masyarakat.

Buku berkaki menerima sumbangan buku tidak dibatasi sumbernya.  Dari siapa saja sumbangan akan ditrima dengan jumlah yang juga tidak ditentukan. ” Satu buku pun akan kami terima,  bisa dikirim melalui pos  ojek online bila jarak terjangkau.  Kalau jumlahnya banyak kami siap menjemput, ” kata Meyer lagi.

Dari upaya yang konsisten, Meyer berpendapat    ada perubahan signifikan  dalam memperoleh akses buku bacaan.  Tadinya kesusahan memperoleh buku, sekarang bahkan     bisa berganti bacaan secara berkala. Kebanyakan anak-anak suka dengan buku cerita dan pengetahuan umum.  Bahkan ibu-ibu pun senang membaca buku yang disediakan komunitas ini dan berharap ada buku khusus untuk mereka, misalnya buku mengenai resep.

Meyer berpendapat andaikan  pemerintah melalui dinas pendidikan dapat berkoordinasi hingga ke kecamatan maka akan lebih banyak pelosok tanah air yang dapat dijangkau melalui program seperti ini, sehingga banyak anak Indonesia yang   mudah memperoleh bacaan yang mendidik.

Dukungan pemerintah ada beberapa waktu ketika diberlakukan pengiriman buku gratis melalui PT Pos,  sayangnya program itu berhenti sejak 3 bulan yang lalu. Hal ini menjadi kesulitan tersendiri bagi distribusi buku ke wilayah yang jauh dari pusat kota. Namun demikian, panggilan hati para pendiri dan volenteer Buki yang kini telah berjunlah 200 orang,  tak memudarkan semangat menularkan kegemaran membaca buku.

” Senang rasanya bila barang bekas justru jadi berkah apalagi bagi  anak-anak yang membutuhkan,” pungkas Meyer. ***

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*