Kuliner sebagai Identitas dan Kebanggaan Bangsa

Sate.Salah satu makanan Indonesia yang punya banyak varian.(TP/Ist)

Tag Pariwisata, Jakarta – Kuliner telah menjadi identitas dan kebanggaan sebuah bangsa dalam dunia pariwisata sekarang.

Tidak susah menemukan restoran Thailand di berbagai penjuru bumi. Di manapun sup tom yum dimakan standar rasanya akan sama.

Raja Thailand membuat sebuah program diplomasi gastronomi yang disebut “Global Thai” dengan membuat standar bumbu untuk semua makanan Thailand paling disukai pengunjung. Kemudian makanan-makanan itu dipromosikan sebagai signature dishes Negeri Gajah Putih. Antara lain, tom yum, pad thai, dan lain-lain. Bumbu-bumbu yang sudah distandardisasi lalu disebarluaskan ke seluruh restoran yang menyajikan masakan Thailand di seluruh dunia. Di bawah satu koordinasi Thailand, Kitchen of the World, diplomasi gastronomi tersebut tidak hanya berhasil mempromosikan kuliner Thailand tetapi juga turunannya yakni produk-produk bumbu jadi.

Restoran yang menyajikan kuliner khas Spanyol mungkin tidak mudah ditemukan, tidak seperti restoran Thailand. Makanan khas Spanyol dibuat dengan menggunakan rempah-rempah otentik yang tidak pernah ditinggalkan.

Ada sembilan rempah utama dalam masakan Spanyol yaitu saffron, pimentòn, ñora, laurel, bawang putih, rosemary, cayenne pepper, origano, dan parsley. Penggunaan rempah-rempah asli seperti ñora dan cayenne pepper merupakan penentu rasa otentik kuliner Spanyol. Dan hal tersebut menjadi kebanggaan nasional.

“We don’t use instant food. We opt more to long cooking dishes,” ujar Oscar Urzelai, seorang chef asal Basque, Spanyol, yang mendirikan Txoko Restaurant di bilangan Jakarta Selatan. Txoko Restaurant adalah restoran yang khusus menyajikan kuliner asal Basque di Indonesia.

Masyarakat di bagian selatan Eropa seperti Spanyol punya kebiasaan mirip dengan masyarakat Perancis. Penggunaan bahan-bahan asli dan segar serta slow cooking dipengaruhi kebiasaan makan orang Spanyol.

Oscar menerangkan, kebiasaan makan orang Spanyol sangat berbeda dengan orang Indonesia. Waktu makan mereka lebih lambat. Waktu makan siang antara pukul 2.00 sampai 3.30. Dan waktu makan malam antara pukul 10.00 sampai 11.00.

Maka setiap chef asal Spanyol akan memilih menggunakan bumbu-bumbu asli dan bahan-bahan segar. Kebiasaan itu juga berlaku saat mempersiapkan makanan lainnya seperti makanan Asia.

Di Indonesia, Pemerintah Kota Pangkalpinang sudah memulai melakukan standardisasi kuliner khasnya. Di antaranya lempah. Standardisasi itu disosialisasikan ke hotel-hotel dan restoran-restoran di kota. Sehingga di manapun wisatawan makan lempah ada standar rasa.

Upaya standardisasi kuliner di Indonesia tidak mudah. Hal ini dikarenakan budaya lisan sangat kuat sehingga resep-resep asli diturunkan nyaris tanpa ada dokumen tertulis. Kemudian, personalisasi atas rasa begitu melekat di setiap individu. Selain itu juga dipengaruhi ketersediaan bahan-bahan di sekitarnya. Maka dari satu jenis makanan saja, misal rendang atau sate, ada banyak sekali variannya.

Bagaimanapun, ada bumbu-bumbu dasar yang digunakan di setiap masakan Indonesia. Tantangan besar berikutnya, bagaimana agar bisa bermufakat untuk membuat standar bumbu dasar dan resep makanan khas yang menjadi makanan nasional Indonesia untuk kemudian disebarluaskan ke seluruh restoran Indonesia di mancanegara.***(oleh Yun Damayanti)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*