Muntok, Bangka Barat Suguhkan Wisata Sejarah Pertahankan Indonesia Merdeka

Pesanggrahan BTW menjadi saksi diasingkannya Presiden pertama RI Ir Soekarno periode Februari hingga Juli 1948. (TP/Ek)

Tag Pariwisata, Bangka Barat –Sejarah merupakan magnet utama bagi wisatawan saat kunjungi Muntok, di Bangka Barat provinsi Bangka Belitung. Sesungguhnya sejarah lahirnya Indonesia merdeka tidak lepas dari aktivitas dua tokok pendiri bangsa di kota ini.

Meski proklamasi 17 Agustus telah mengumumkan pada dunia Indonesia merdeka, namun pihak Belanda masih belum menerima. Bagian dari agresi militer Belanda II ke Yogyakarta yang kala itu merupakan ibu kota negara RI adalah pengasingan Soekarno-Hatta dan tokoh bangsa lainnya.

Ketua Mentok Heritage Community (MHC) Chairul Amri Rani mengatakan saat kunjungan Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) ke Muntok, Selasa (23/9) bahwa di Bangka Barat terdapat satu wilayah yakni Muntok menyimpan sejarah yang menarik diketahui wisatawan. Salah satunya, pengasingan Soekarno-Hatta di dua yakni Pesanggrahan Manumbing, Pesangrahan BTW (Banka Tin Winning) atau biasa disebut Pesanggrarahan Muntok atau Wisma Ranggam.

Bila ke Muntok, sayang kalau tak singgah ke Museum Timah. (TP/Ek)

Di kota penghasil timah ini juga ditorehkan sejarah aktivitas penambangan timah sejak masa pendudukan Belanda. Sejarahnya dapat ditelusuri wisatawan di Museum Timah.

Lalu yang tak kalah menarik adalah perjalanan wisata sejarah ke Pantai Tanjung Kalian. Di pantai ini  berdiri sebuah mercusuar setinggi 65 meter yang dibangun masa Belanda tahun 1862. Serta pantai berisi sejumlah bangkai kapal Jepang yang karam sisa perang dunia ke-2.

Mercusuar di Tanjung Kalian menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang cukup penting di Muntok. (TP/Ist)

Ada pula Rumah Mayor Cina yang juga menjadi bagian dari perkembangan Kota Muntok dengan akulturasi budaya Cina, Melayu dan Eropa ini begitu bisa dirasakan di Kota Timah ini.

Amri menambahkan Muntok adalah kota tua yang berdiri sejak berabad silam dan sejak zaman Belanda, kota Muntok telah dibangun menjadi sebuah kota pelabuhan.

Melalui Pelabuhan Muntok inilah hasil alam terutama lada dan timah putih Bangka, diangkut kapal-kapal Belanda menuju ke daratan Eropa. Jejak-jejak kejayaan Mentok di masa lalu masih bisa dijumpai hingga kini.

“Akulturasi budaya beragam etnis itu pula yang membuat Muntok begitu beragam, bahkan jangan heran jika ada Masjid Jami’ yang berdiri megah berdampingan dengan Kelenteng Kong Fuk Miau, usianya pun sudah ratusan tahun silam,” jelas Amri.

Toleransi antar etnis sudah terbangun sejak berabad di Muntok. Terbukti Masjid Jami dan Klenteng Kong Fuk Miauw berdiri berdampingan. (TP/Ek)

Ada pula Rumah Mayor Cina yang juga menjadi bagian dari perkembangan Kota Muntok dengan akulturasi budaya Cina, Melayu dan Eropa ini begitu bisa dirasakan di Kota Timah ini. Tak jauh dari sana ada komplek pemakaman bangsawan melayu yang diklaim sebagai pendiri cikal bakal Kota Muntok.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Fadjri DJagahitam pada kesempatan yang sama menambahkan bahwa Propinsi Bangka Belitung sangat mendukung kegiatan wisata di Muntok ini, apalagi Pemda Propinsi menetapkan Muntok masuk dalam Rencana Induk Rencana Detail (RIRD) Kawasan Strategis Pariwisata Provinsi (KSPP). ” Kami ingin melestarikan kawasan warisan budaya kota ini, agar nilai sejarah Indonesia  dapat dilestarikan untuk kesejahteraan rakyat melalui pariwisata, ” katanya.

Nah bukan cuma untuk wisatawan nusantara wisatawan manca negara juga kerap mengunjungi kota tua bersejarah ini. Mereka berasal dari Eropa seperti Belanda, Jerman maupun Australia.

Kini untuk terus melestarikan sejarah masa lampau,  wisata kebangsaan dihidupkan rutin setiap tahun dengan aneka kegiatan antara lain berupa pameran foto digelar mulai bulan Febuari hingga Juli,sarasehan, dan napak tilas Bung Karno piknik bersama masyarakat. ***

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*