Omah Sinten Sajikan Masakan Khas Keraton dengan Harga Terjangkau

Slamet Raharjo (tengah), pemilik restoran Omah Sinten saat memberi keterangan pada Forum Wartawan Pariwisata. ( TP/Ist)

Tag Pariwisata,  Solo – Icip-icip makanan ala kraton jangan dikira harus merogoh kocek lebih. Di Omah Sinten, makanan menu khas keraton dapat dinikmati dengan harga terjangkau mulai Rp. 35-50 ribu saja.  Kamu bisa nongkrong berlama-lama disana menikmati suasana budaya Jawa. Bahkan bila beruntung alunan musik keroncong akan terdengar disuguhkan untuk para tamu bila berkunjung pas  Senin Wage. Karena di hari itulah komunitas penggemar keroncong memainkan musik di halaman restoran.

Arsitektur Jawa mendominasi  bangunan restoran yang dirancang oleh Slamet Raharjo,  pemilik  Omah Sinten yang juga pengusaha mebel. Tak heran unsur kayu  akan tampak di setiap sisi bangunan yang ternyata kayu bekas, yang dipoles dan ditata ulang sehingga tetap membuat ruangan tampak asri.
” Banyak orang berpendapat menu heritage etnik itu mahal. Kami sajikan yang ‘mewah’ namun terjangkau karena karakter orang Solo apa yang diberikan untuk dirinya sendiri, tidak akan sama dengan yang diberikan untuk orang lain.  Pasti yang terbaik lah yang disajikan untuk tamu atau orang lain, ” ungkap  Slamet Raharjo di kesempatan kunjungan Tag Pariwisata ke sana pekan lalu.
Makanan yang disajikan disini merupakan sajian khas dua keraton yang belum pernah dipopulerkan di masyarakat. Salah satu menu unggulannya yakni Nasi Golong (kepalan), kesukaan Mangkunegoro IV. Sejarahnya di era perlawana terhadap penjajah, dua kepal nasi dijadikan satu dibungkus yang menyimbolkan harapan agar masyarakat bersatu melawan penjajah.
Menu favorit lain disini yakni Manuk Nom atau burung muda yang dimakan pakai emping, Garang Asem kuah kuning yang disajikan di dalam bambu,  Wedang Omah Sinten paduan jahe sereh dan tape singkong, juga Teh Sereh, dll.
Omah Sinten sendiri memiliki arti rumah siapa. Mengandung kata tanya bahwa rumah ini kepunyaan siapa.  ” Saya ingin menghilangkan keakuan bahwa ini bukan tempat saya,  meski saya pemilik,  tapi tempat milik  semua yang ada disini, ” ungkapnya.
Menjaga budaya lewat kuliner untuk kaum muda
Suasana santai di dalam restoran Omah Sinten saat nikmati suguhan teh sereh. (TP/Ist)

Restoran yang berlokasi di jalan Diponegoro No.34-54, Keprabon, Kec. Banjarsari ini berdiri atas masukan dari Jokowi yang kala itu menjadi Wali Kota Solo.  Usai penataan kawasan pedagang kaki lima  di Banjarsari yang  rampung dipindahkan menuju lokasi baru di Pasar Klitikan, Jokowi menyarankan agar bangunan yang ada di sekitar Banjarsari berkonsep budaya.  Nah bila ingin membuat restoran akan baik bila berkonsep budaya Jawa, agar kawasan ini menjadi kawasan ruang budaya, karena posisinya berada di dekat Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran, Solo.

Selain menawarkan kenyamanan dan keunikan menu, Slamet Raharjo mengungkapkan keinginannya mengangkat  higienitas, maka dapurnya pun diposisikan di luar agar tamu paham proses mengolah makanannya. Meski awalnya didampingi abdi dalem  setelah berjalan beberapa lama kini chef sendiri mengolah  masakan yang disajikan.
Lalu bagaimana melestarikan makanan warisan budaya Jawa di kalangan anak muda?  ” Memang dirasa berat membuat anak muda menyukai makanan seperti ini,  untuk itu sangat diperlukan inovasi yang pas agar kaum milenial gandrung dengan makananan khas tradisional. Saya maklum mereka kadung  lebih sering mengkonsumsi makanan cepat saji dan kekinian,” pungkas Slamet Raharjo.***

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*