Rasakan Suasana Masa Lalu di Rumah Kembar Tuan Kentang

Bila pandai mengambil moment foto di rumah kembar, gambar yang dihasilkan akan dramatik.  (TP/Ist)

Tag Pariwisata, PALEMBANG- Kita mengenal Rumah Kembar di beberapa daerah dengan ceritanya masing-masing. Di belakang Griya Kain Tuang Kentang, di Palembang ada spot wisata budaya yang sayang bila tak sempat dikunjungi. Namanya Rumah Kembar Tuan Kentang atau Rumah Lama biasa masyarakat menyebutnya.

Rumah itu dibangun tahun 1918 oleh H. M Mahmud Redjo yang dikenal sebagai saudagar terkemuka di wilayah Tuan Kentang. Rumah itu disebut rumah kembar karena kedua rumahnya berdekatan posisinya dan identik bentuknya.

Sejak dibangun hingga kini, rumah tersebut tidak berubah bentuknya. Hanya beberapa perbaikan dilakukan, itu pun didukung progran CSR Bank Indonesia.

Saat ini rumah tersebut dihuni oleh generasi ke -3 H. Mahmud.Karena keunikan rumah tersebut masyarakat sering mengunjungi rumah yang berada persis di pinggir Sungai Ogan ini untuk beristirahat, mengamati pemandangan pinggir sungai atau melihat lihat bentuk bangunna dan isinya yang masih utuh di dalam rumah.

Ketika berkesempatan mengunjungi tempat ini, Sukemi yang biasa disapa Tante Emi, pemilik rumah kembang
mengungkapkan setelah direnovasi melalui bantuan Bank Indonesia November tahun lalu, tamu yang datang makin bertambah. Bahkan dia menyiapkan rumahnya untuk dihuni beberapa hari untuk tamu yang ingij tinggal lebih lama di sekitar Tuan Kentang.

“Yang datang ke tempat ini biasanya para pelajar hingga mahasiswa yang ingin mempelajari struktur bangunan rumah jaman dulu,” Kata Tante Emily Semen (17/6).

Tidal hanya mengunjungi beberapa jam, menginap pun diperkenankan pemiliknya. Satu malam dikenakan biaya Rp.200 ribu , termasuk sarapan pagi sederhana. Tanpa bermalam, pengunjung hanya perlu menyerahkan dana sumbangan sukarela untuk membantu biaya pemelihaaan bangunan.

Aktivitas yang bisa dilakoni di sana antara lain mengambil foto di beberapa sudut yang instagramable, melihat benda-benda warisan di dalam rumah dan meminjam baju daerah Palembang, lalu berfoto sebagai kenangan di beberapa sudut sesuai keinginan.

Kesannya tidak membosankan datang ke sini ada saja sudut rumah yang menarik diamati lalu diabadikan dalam telepon genggam. Apalagi pemandangan kesibukan sungai juga bisa menambah lama waktu berkunjung ke rumah berusia 101 tahun ini. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*