Saat Pertumbuhan Ekonomi Turun,100 % Pariwisata Bisa Dongkrak Pendapatan Devisa Negara

Ketua Asita DKI Jakarta Hasiyanna S. Ashadi (tengah) didampingi perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Hamid Ponco Wibowo (kanan) dan Pengamat Pariwisata Arifin Hutabarat (kiri) saat Talkshow Tourism Talk di Jakarta Rabu(11/9).(TP/Ist)

Tag Pariwisata, Jakarta – Menurunnya pertumbuhan ekonomi dunia beberapa tahun terakhir, otomatis berpengaruh bagi pertumbuhan perekonomian nasional. Pariwisata diyakini menjadi pilihan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian.

“Saya yakin 100 persen bahwa sektor pariwisata bisa mendongkrak pendapatan devisa negara, sehingga kehadiran pariwisata bisa memperbaiki sektor pendapatan devisa,” tegas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Hamid Ponco Wibowo dari keterangan tertulis yang diterima Tag Pariwisata usai acara  Tourism Talk Club di Museum Bank Indonesia, Kota Tua Jakarta, Jakarta Barat, Rabu (11/9/2019).

Apalagi, Jakarta sebagai ladang utama pendukung dari sisi produksi juga menurun sehingga harus mencari alternative lain, salah  satunya dari sektor pariwisata.

“Pariwisata di Indonesia bisa menutupi defisit transaksi berjalan, artinya pariwisata bisa sangat cepat mendatangkan devisa ketimbang dari industri lainnya,” bebernya lagi.

Hamid Ponco Wibowo mengatakan pada triwulan II tahun 2019, defisit transaksi berjalan mencapai Rp 8,4 triliun sedangkan neraca pembayaran Indonesia pada triwulan II tahun 2019 mengalami defisit Rp 2,0 triliun.
Otomatis, pariwisata jadi sektor prioritas dengan target devisa yang diperoleh dari 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara bisa mencapai USD 17,6 miliar pada 2019. Hasil ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 15,8 juta wisatawan mancanegara.

Apalagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2019 tercatat sebesar 5,05 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan triwulan I tahun 2019 sebesar 5,07 persen. Sementara itu, pertumbuhan perekonomian DKI Jakarta dari 6,25 persen pada triwulan I tahun 2019 menjadi 5,71 persen pada triwulan II 2019. Ini diakibatkan perlambatan ekonomi ibu kota bersumber dari melambatnya kegiatan investasi dan ekspor.

“Harus diingat efek pariwisata itu menyebar hingga ke akarnya termasuk sektor ekonomi, pariwisata bisa menyentuh kerajinan, perdagangan, transprotasi, penginapan, kuliner hingga pada bidang jasa. Semakin melebar maupun meningkatkan pariwisata maka secara otomatis sektor ekonomi bisa dirasakan oleh masyarakat,” tambahnya lagi.

Dengan melihat celah inilah, membuat ASITA melihat bahwa potensi pariwisata harus segera mungkin digarap dengan serius bukan lagi dianggap sebelah mata sehingga bisa memberikan kontribusi besar dari sisi sektor pariwisata. Ketua DPD ASITA DKI Jakarta Hasiyanna S. Ashadi memberikan contoh bahwa pariwisata Jakarta menjadi salah satu destinasi yang siap menyumbang devisa yang didukung dari sisi atraksi, aksesibilitas serta amenitas yang memadai selain Bali yang sudah menjadi benchmark pariwisata Indonesia.

“Pariwisata di Jakarta memiliki sejumlah destinasi unggulan baik Kota Tua Jakarta, Monas, Ancol yang sudah dikelola dengan baik, belum lagi terdapat Stadion Gelora Bung Karno. Dari sisi akses maka bandara Soekarno-Hatta sudah didukung hampir semua maskapai penerbangan internasional yang masuk ke Jakarta,” urainya lagi.

Oleh karenanya, ASITA berkomitmen secara penuh dalam mendukung peningkatan sektor pariwisata. Terlebih, hingga kini anggota ASITA Jakarta mencapai sekira 1.400 perusahaan yang terdiri dari Biro Perjalanan Wisata (BPW) dan Agen Perjalanan Wisata (APW).

“Dalam perkembangannya core business pelaku usaha tidak semerta terpaku pada indbound atau outbound business saja melainkan semua harus dikerjakan mulai dari domestic, MICE, haji dan umrah, maupun indbound dan outboundnya,” tambahnya.

Dirinya menambahkan bahwa keberadaan era digital maka biro perjalanan juga harus memahami keinginan wisatawan itu sendiri. Pasalnya, tidak semua turis menggunakan handphone dalam mencari data yang diinginkan, ini artinya mereka (wisatawan-red) juga membutuhkan asistensi di suatu destinasi.

“Dan ini bukan bicara penurunan, melainkan jumlah shifting di mana kebanyakan turis berjalan sendiri. Di sini dibutuhkan biro perjalanan atau tour operator harus bisa meng-create atau menggarap market baru yang datang serta membutuhkan kreatifitasnya seperti food community dan ini harus digalakkan, apalagi tidak semua turis tahu bahwa Indonesia kaya budaya,” tukasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*