Sensasi Menjajal Wisata Kereta Uap Tertua Dunia di Kota Solo

Kesempatan berfoto di lokomotif kereta ini paling favorit dipilih wisatawan yang mengambil paket tur keliling dengan kereta tua. (TP/ibonk)

Tag Pariwisata,  Solo-  Bila  beruntung,  pemandangan kereta uap  melintas di jalan aspal tengah Kota Solo bisa kamu jumpai saat berada di kota budaya ini.  Momen itu terjadi saat  kereta uap yang diberi nama Sepur Kluthuk Jaladara, dengan kapasitas sekitar 70 orang melaju dari stasiun Purwosari hingga stasiun Kota Solo  melewati jalur kereta pinggir aspal jalan Slamet Riyadi  pusat Kota Solo.

Tahun 2009 atas inisiatif Jokowi yang kala itu menjadi wali kota,  kereta ini beroperasi dengan tujuan menjadi salah satu ikon wisata menarik di Kota Solo. Sepur Kluthuk Jaladara  tidak beroperasi reguler,  jadi hanya disewa untuk keperluan wisata satu grup yang berminat dan bersedia membayar biaya sewa yang tidak murah. Namun pada musim liburan seperti  libur lebaran layanan untuk masyarakat  umum dibuka, seperti diungkapkan Tri Haryati tim Tourism Information Center kepada Tag Pariwisata (19/11). ” Biaya sewa sekitar Rp.  3,5 juta itu pun harga sudah subsidi dari Pemkot Solo. Sebenarnya harga normal biaya sewa kereta adalah sekitar Rp.  8 juta, ” katanya.

Tingginya biaya operasional kereta uap dimaklumi karena bahan bakar yang dipakai Lokomotif uap C 1218 adalah kayu jati yang sifatnya tahan lama dan lebih kuat menghasilkan panas. Bayangkan sebelum kereta melaju di jalan, lokomotif dipanaskan dulu dengan bahan bakar berupa kayu jati kurang lebih sebanyak 5 meter kubik,  dan 5 liter air, selama 3 jam.  Besar bahan bakar itu biasanya dipergunakan untuk satu kali rute perjalanan wisata dengan jarak tempuh sekitar sekitar 6 km.

Sepanjang jalan dari stasiun pemberangkatan biasanya ada kesempatan berhenti sekitar 15 menit  di beberapa titik seperti  Loji Gandrung (Rumah Dinas Wali Kota Solo), House of Danar Hadi, Museum Radya Pustaka Sriwedari, Kampung Batik Kauman, Beteng Trade Center sebelum tiba di tujuan akhir, stasiun Kota Solo.

Sepanjang perjalanan melalui jalan raya,  warga yang menyaksikan juga nampak ‘exited’  dan tak akan menyiakan kesempatan mengambil foto atau video saat kereta melintas. Sementara wisatawan yang berada di dalam kereta merasa beruntung bisa menjajal naik kereta uap yang hanya beroperasi 8 kali sebulan atau sekitar 80 kali saja dalam setahun.

Suasana di dalam gerbong kereta uap yang teduh dan menarik  dijadikan tempat pengambilan gambar. (TP/Ist)
Meski di luar udara terik tetap saja terasa teduh di dalamnya. Mungkin karena struktur bahan gerbong dari kayu jati yang membuat suasana nyaman dengan jendela terbuka dimana-mana sehingga dengan leluasa penumpang sesekali mengambil foto dari satu gerbong ke gerbong lain, mengambil sudut foto yang pas.
Meski mampu melintas dengan kecepatan 50 km/jam namun untuk keperluan wisata kereta berjalan  dengan kecepatan hanya 10-20 km/jam   agar  suasana relaks.  Sambil mengamati suasana kota Solo dan mengambil foto dari berbagai sudut, pengelola menyuguhkan  jajanan pasar  khas Solo dan  jamu untuk para tamunya.
Biasanya perjalanan kereta api ini sehari dua kali, itu pun tidak bisa setiap hari. Kereta mulai berangkat mulai jam 7.30 sampai jam 10 saat sesi pagi dan siang setelah jam14. 00.  Satu kebanggan bisa  naik satu-satu nya kereta tertua di dunia  buatan Jerman yang masih melintas di tengah kota, sedangkan kereta uap di  Ambarawa melewati perkebunan. Kereta ini dibuat tahun 1896 yang merupakan satu diantara 6 kereta uap tertua peninggalan Belanda di Indonesia.  Dari 6 kereta, 1 kereta di Sawahlunto, 2 kereta di Solo dan 3 kereta di Ambarawa.
Pudjiono masinis yang juga merawat kereta tua hingga kini. (TP/Ist)

Untuk perawatan, Pudjiono selaku masinis kereta uap tidak merasakan masalah yang berarti dalam merawatnya. “Mungkin masalahnya sesekali ada pipa bocor tapi kita bisa atasi tidak pernah ada masalah yang cukup berarti,”  katanya.

Rasanya kurang afdol ke Solo  bila tidak mencoba naik kereta ini. Tak heran,  wisatawan dari berbagai wilayah pernah mencoba naik seperti wisman  dari China, Malaysia, Singapura, selain masyarakat Kota Solo dan sekitarnya. Para pejabat dan artis pun pernah mencicipi paket wisata ini  seperti Megawati Soekarno Putri, Ganjar Pranowo, Tora Sudiro, Tukul dan lain-lain. ***

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*