‘Spa & Wellness Tourism Awards 2019’ Ubah Imej Spa di Indonesia

Indonesia unggul dalam hal sdm dan raw material spa. (TP/Ist)

Tag Pariwisata, Jakarta- Spa & Wellness Tourism Awards 2019 digelar untuk meningkatkan melestarikan dan mengembangkan usaha Spa baik industri, profesi maupun lembaga pendidikan dan tenaga ahli bidang spa.

Terlebih kesan spa saat ini masih dianggap negatif karena tumbuhnya spa plus plus lebih banyak ketimbang spa untuk perawatan. Hal tersebut diungkapkan ketua Yayasan Pariwisata Spa Indonesia (YPSI) Trisya Suherman dalam jumpa pers di Jakarta Sabtu (7/9).

” Indonesia sebenarnya unggul dalam persaingan bahkan di tingkat internasional dari aspek manpower, raw material berupa jamu, tak ada saingannya, namun karena banyaknya kesan negatif mengenai spa, maka YPSI menggelar ajang ini, ” jelas Trisya.
” Pengalaman pribadi saya, usaha pakai embel-embel spa tidak  boleh, padahal spa sendiri sebenarnya sudah diakui di dunia. Tapi di sini akan dikenakan pajak hiburan mulai 35 % sampai 70%. Dan ini akan memberatkan pelaku usaha spa,” tambahnya.

Oleh karena itu duta Spa & Wellness Tourism Awards cukup berat salah satunya mengubah kesan negatif spa, selain sebagai spoke person, mempromosikan spa Indonesia.

Dukungan media, regulator agar spa di Indonesia berkesan positif dan bisa menjadi daya tarik wisatawan menjadi salah satu tujuan digelarnya kampanye acara ini selain bentuk edukasi pada masyarakat.
Sementara itu Oneng Setya Harini, Asisten Deputi Pengembangan Wisata Budaya Kementerian Pariwisata, mengungkapkan pada kesempatan yang sana bawah pemerintah yakni Kementerian Pariwisata sebagai regulator dan fasilitator telah mendorong upaya bersama komunitas menyelesaikan persoalan yang ada. “Menata kembali regulasinya dan yang tak kalah penting mengubah imej bersama dengan masyarakat umum
merubah pemahaman spa itu bukan usaha esek-esek. Peningkatan kualitas SDM beserta peningkatan kualitas kompetensinya  juga menjadi perhatian pemerintah. Ini pekerjaan rumah bersama,” jelasnya.

Selain itu menjadi tugas bersama pula menjadikan spa unggul di tanah air mengingat cukup besar potensinya seperti diungkapkan Annie Savitri pembina YPSI. ” Di Indonesia terdaftar sekitar 1000 spa dengan omset rata-rata sekitar Rp 50 juta per bulan. Setahun total perputaran dana berkisar Rp. 600 milyar. Bila ditambah  jasa terkait industri spa mulai dari manufacturing,  ekapor setahun dari 3 perusahaan besar bisa mencapai Rp. 100 milyar, ditambah lembaga kursus, juga pengiriman tenaga kerja ke luar negeri di bidang spa, ” ungkap Annie.

“Belum lagi efek multiplier yang luas misalnya dari perdagangan pengrajin, sehingga total perputaran uang bisa mencapai Rp. 1 triliun. Untuk itu kami terus berupaya mengangkat spa wellness ini  unggul di Indoenesia,salah satunya melalui ajang ini, ” tukas Annie. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*