Ternyata Sederhana, Perkuat Branding Usaha Hanya Perlu Praktikkan 3 Hal Ini

Suasana kegiatan bimtek bagi usaha menengah mengambil tema” Strategi Promosi
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Melalui Branding dan Media Digital”.(TP/Ist)

Tag Pariwisata, Jakarta- Bicara menjalankan bisnis dahulu, pasti beda dengan sekarang. Kehidupan kita saat ini tidak lepas dari perkembangan dunia digital, media sosial. Dan mendalami branding sangat penting untuk mendukung berbagai usaha. Hal tersebut disampaikan Qhistas Tsana Noe’ man, branding consultant Kementerian Pariwisata Ekonomi dan Kreatif (Kemenparekraf),  saat memulai bimbingan teknis pelaku usaha menengah  di Jakarta Pusat, Kamis (2/06) di Red Top Hotel Jakarta.

Kegiatan tersebut merupakan kerjasama Kemenparekraf dan Sudin Parekraf Jakarta Pusat, dalam rangka meningkatkan kemampuan dan
pemahaman dalam memasarkan destinasi pariwisata dan produk ekonomi kreatif.

Lebih jauh Qhistas menjelaskan bahwa pada praktiknya, untuk membangun branding yang utama adalah fokus dan  konsisten.  Nah  kunci untuk membuat branding lebih mudah, perlu  merumuskan hal berikut :

1. Brand story atau cerita pendek dari merek produk kita. Perlu dijelaskan siapa kita, nama brand, kategori, keunikan produk pembeda dari yang lain,  bagaimana produk dibuat dan ditujukan untuk siapa target pasarnya.

Ini penting untuk mengidentifikasi jelas langkah promosi selanjutnya dan membuat konten yang tepat berikutnya. Yang perlu diperhatikan  bahwa branding ini juga harus konsisten, tidak boleh sedikit-sedikit berubah. Contoh Teh Botol mereka tidak ganti brand color,  tidak ganti tagline promosi dari dulu sampai sekarang, padahal perusahan sebesar itu pasti punya budget untuk melakukan apa saja. Kenyataanya  mereka tidak pernah merubah  profilenya, sehingga justru brand nya  lekat di hati masyarakat. Slogan iklannya : “Apapun makanannya minumnya Teh Botol Sosro”, diingat oleh sebagian masyarakat hingga saat ini.

2. Content pillar. Turunan dari brand story yang sudah dirumuskan akan membentuk content pillar, yaitu apa saja yang akan disampaikan dan perlu diketahui lebih rinci oleh target market nya. Content pillar ini akan membangun pemahaman profile produk kita secara utuh. Sehingga konten untuk media sosial yang disajikan nantinya mampu membentuk  kepercayaan dan kesetiaan  pada produk kita. Jadi Content pillar  merupakan point penting apa saja yang akan ditayangkan di media sosial. Misalnya, apa saja varian produk kita yang akan disebar sebagai konten di media sosial.Lalu bagaimana proses pembuatannya, dan siapa saja pembeli produk kita.

Bila produk kita craft untuk wisatawan berarti kita ceritakan apa saja varian craft yang dihasilkan,  dari apa saja bahan bakunya , proses pengolahan sehingga menghasilkan produk yang cocok untuk wisatawan. Jadi konten di media sosial kita tidak melulu ajakan untuk membeli produk kita, tapi menjelaskan berbagai aspek dari produk kita.

3. Banking content, artinya kita menyiapkan konten apa saja yang akan disebarkan di media sosial selama satu periode. Misalnya satu bulan, secara spesifik kita rencanakan setiap minggu lalu dibagi lagi setiap hari, apa saja isi konten dari content pillar yang sudah kita susun sebelumnya. Misalnya kita rencanakan di Instagram hari Senin tentang varian produk, lalu Selasa mengenai proses membuat produk, Rabu profile pembeli produk dan seterusnya sampai Minggu.  Lalu di Tik Tok apa saja konten yang akan disebarkan.

Nah semua rencana konten tadi dituangkan dalam bagan  yang mudah dipahami lalu dipraktikkan ya! Sesederhana itu bila dilakukan konsisten akan membangun brand yang baik bagi produk kita.

Praktek merumuskan strategi  branding selanjutnya dikerjakan peserta bimtek secara  berkelompok.  Kegiatan yang juga dihadiri Elizabeth Hutagaol Koordinator Konten Kemenparekraf, Shinta Nindyawati Kasudin Parekraf Jakarta Pusat, dan Himmatul Aliyah mewakili Komisi X DPR RI, berakhir dengan pemberian hadiah bagi kelompok yang paling baik membuat strategi branding.***

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*